Posts

Konflik

sebuah percakapan di senja hari, di sebuah taman. Tadinya aku sedang sendiri terduduk di bangku yang berada tepat di dekat danau. Aku sedang memandangi bebek-bebek yang sedang berenang beriringan di tepian danau. Sesekali aku tersenyum melihat tingkah polah mereka. Meskipun sebenarnya hati ini tak menentu sedang apa yang dirasakan. "kenapa lagi-lagi kamu duduk disini sendirian, Dera?" tanya suara cempreng. Tepat sumber suara ada di belakangku. "sedang galau" jawabku sekenanya. Mataku masih terpaku pada riakan air danau yang cukup jernih itu. "galau? kamu ada konflik dengan Rion?" tanyanya heran, ia mengambil posisi di sebelahku duduk dan menatapku tajam. Aku hanya menggeleng pelan "lalu?" Diam sejenak. Menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya, cepat, tetap, dada ini serasa sesak. Bukan karena Asmaku yang sedang kambuh, melainkan memang ada yang mengganjal di pikiranku selama ini. "konflik perasaan" jawabku singkat.  Aku...

Road to SD

Nah kalau ini ceritanya pas hari Sabtu kemaren. Acara salah satu BO yang kemaren gue ikutin, road to SD untuk penyuluhan cuci tangan yang baik dan benar ditambah pengetahuan tentang beda sampah organik dan anorganik. Jadi, itu untuk 25 sekolah, serentak. Jadi, observer BO ditambah dengan anak-anak FK Unsri yang lain yang jadi penyuluh nya. Jadi gue kebagian ke SD Kartika deket kambang iwak. Grup gue... Kak Ira, Kak Andre, Frandi, Suci sama Nia. Ntah gimana cara bagiin kelompoknya, bisa jadi kebetulan gitu. (padahal gue panitia acara, tapi magabu. HAHHA). Jut lanjut, sampai kita dengan perjanjian disana harus sudah ada jam setengah 7. Oke. Bayangin, pas hari itu gue baru bangun jam 6:15 (minta ditujes hha). Pas liat jam gue langsung loncat dari tempat tidur, buru-buru ambil wudhu terus Solat. Abis itu mandi dan.... dan.... krik-krik-krik. Di jemput Frandi jam 6:45. Gubrak! Padahal udah di ping-ping.. alhasil pagi itu gue keki berat sama temen gue satu itu -___-" abis itu jemput Su...

Pormafk

Wuakakaka ini konyol benar-benar konyol untuk hari ini. sebenarnya acaranya udah dibuka tanggal 25 Maret kemaren. Dimulai dari jalan santai terus yel-yel sama FK race kayak tarik tambang, balap karung, balap sarung, masukin pensil ke botol, gendong-gendongan, ngumpulin kaos kaki, ngumpulin sampah . Alhasil, PDUNR'11 gak satu pun nge gondol juara hari minggu kemaren. Tarik tambang putra dengan andelan body jumbo empat orang belum mampu mengalahkan kekuatan 2010NR dikarenakan hanya kurang keberuntungan saja. Tarik tambang putri, dengan body jumbo dan kekuatan sapi pun (?) juga belum mampu mengalahkan kekuatan lebih sapi nya 2009NR yang memang jadi juara tarik tambang putri. Terus buat FK race juga belum mampu menyaingi kecepatan 2009 yang lebih dahulu menyelesaikan racenya. Ngumpulin kaos kaki yang menurut gue agak berkesan. Jadi 2009NR, 2010NR-R, 2011NR-R perwakilannya maju ke depan, dan harus mengumpulkan kaos kaki sebanyak mungkin, tapi bukan berada di grupnya. Nah, kirain aba-ab...

Ketika Orang-orang Salah Sangka

Jadi deket-deket ini ada acara pormaFKa (kalo gak salah itu dah namanya) nah itu tu acara pekan olahraga mahasiswa FK se Unsri. Jadi... biasanya gue kan SMA SMP gak minat tuh sama acara yang bau-bau olahraga (GAK BAKAT!) tepatnya. Jadi gak pernah ikut yang begituan (kecuali pernah ikut tarik tambang). Nah disini ada beberapa cabang olahraga, Badminton, Futsal, tarik tambang, catur, Basket, volli, tenis meja dan... ntah lah kayaknya itu aja. Nah... jadi perdana nih gue mencampurkan diri. Bukan... bukan pas kuliah tiba-tiba gue berbakat dalam olahraga. Bukan... gara-gara temen gue menganggap POSTUR TUBUH gue yang bisa diandelin *disepak! Setelah pengumuman diadakan pormaFKa Keysia, Suci, Maya : Sel, Ikut Futsal yooo... ntar jadi penjaga gawangnya. Gue : -_______-" gamau Maya : ayolah selv gue : -______-" terserah deh Di Layo pagi : Nano: Selvi, Suci , ngapo nih yang tarik tambang gak ada yang gede-gede badannya. Kalian ikut berdua tambah nia yaaa gue : -_____-"...

Mimpi

Pagi buta. Sekitaran pukul lima subuh kurang beberapa menit aku terbangun dari tidurku yang cukup singkat menurutku atau menurut waktu normal. Hanya empat jam. Malam tadi aku terpaksa begadang, karena aku harus menyelesaikan laporan yang tumpukannya tidak bersahabat. Aku terbangun lantaran terdengar suara azan dari mushola yang tak jauh dari tempat tinggalku. Dengan langkah sempoyongan dan mata masih mengantuk, aku menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ketika kubuka kerannya, air yang mengalir dingin. Se dingin es. Membuat mataku yang tadinya mengantuk tiba-tiba melek. Segera aku ambil air wudhu lalu solat kemudian aku berdoa. Sehabis itu aku berpikir sejenak. Mimpi apa aku semalam? Aku memimpikan tentangmu lagi. Untuk kesekian kalinya aku bermimpi tentangmu. Bukan mimpi yang indah. Seperti yang kita rajut selama ini. Semalam aku bermimpi, aku bertemu kamu di sebuah gedung tua. Di mimpi itu, aku sedang duduk termenung menunggu kehadiranmu. Kamu berjanji padaku, kamu akan pulang dan seger...

Jalan Takdir

Cinta itu sederhana. Ketika aku dan kamu masih selalu bersama. Masih bisa melihat tawamu yang renyah, senyummu yang memikat hati dan candaanmu yang selalu aku rindukan. Rindu itu sederhana, ketika aku merindukanmu dan kamu pun merindukanku. Kamu tahu ketika aku benar-benar butuh kamu dan aku tahu kapan kamu membutuhkan aku. Sayang itu sederhana. Tak perlu aku memohon sayang itu, kamu benar-benar memperlakukan aku selayaknya kamu benar-benar enggan kehilanganku, begitupun aku. Tapi indah ketiganya hanya dapat aku rasa ketika kita dalam masa pendekatan dulu. Teringat di saat pertama kali kita berjumpa. Aku sendiri. Berdiri di tengah lorong di bandara yang berada di kotamu tanpa tahu harus kemana. Waktu itu aku nekat untuk pergi dari kotaku, karena ingin lepas dari semua kejenuhan yang membuat aku untuk bernafas saja sulit. Lalu kamu datang dengan tergesa-gesa dan tak sengaja menabrakku. Aku yang masih di bawah pengaruh emosi langsung saja memakimu sepuas aku memaki mantanku. Aku melampia...

Ya Cuma Kamu

Ntah apa yang aku pikirkan. Hubunganku dengan Dio tak baik kini. Aku juga bingung apa salahku pada Dio hingga ia tak ingin bertemu denganku bahkan mengirim pesan singkatpun enggan. Lalu sore ini aku putuskan untuk menemui dia dan memperjelas semuanya. Sekalian, rindu yang selama ini tak mampu terungkap karena aku bungkam ingin segera aku sampaikan. Aku melangkah menuju rumah Nana, sahabatku. Aku ingin ia menemaniku ke asrama Dio. Tapi ketika dalam perjalanan, aku menjumpai sosok yang akan aku temui di sebrang sana. Gadis berjilbab itu sedang berdiri bersedekap di halte. Apa hari ini ia naik bus? Kemana motor merah yang selama ini dipakainya? Pikirku. Kemudian aku berteriak menyebutkan namanya “NANA..” dan yang punya nama menoleh ke arahku. Ia melambaikan tangan dan membalas memanggil namaku “CIA..” teriaknya.  Aku menyebrangi jalanan yang tak cukup rame sore itu dan aku menghampiri Nana. Aku bertanya kepada Nana kemana motor yang ia pakai selama ini dan dengan santai ia menjawab,...