Jalan Takdir
Cinta itu sederhana. Ketika aku dan kamu masih selalu bersama. Masih bisa melihat tawamu yang renyah, senyummu yang memikat hati dan candaanmu yang selalu aku rindukan. Rindu itu sederhana, ketika aku merindukanmu dan kamu pun merindukanku. Kamu tahu ketika aku benar-benar butuh kamu dan aku tahu kapan kamu membutuhkan aku. Sayang itu sederhana. Tak perlu aku memohon sayang itu, kamu benar-benar memperlakukan aku selayaknya kamu benar-benar enggan kehilanganku, begitupun aku. Tapi indah ketiganya hanya dapat aku rasa ketika kita dalam masa pendekatan dulu. Teringat di saat pertama kali kita berjumpa. Aku sendiri. Berdiri di tengah lorong di bandara yang berada di kotamu tanpa tahu harus kemana. Waktu itu aku nekat untuk pergi dari kotaku, karena ingin lepas dari semua kejenuhan yang membuat aku untuk bernafas saja sulit. Lalu kamu datang dengan tergesa-gesa dan tak sengaja menabrakku. Aku yang masih di bawah pengaruh emosi langsung saja memakimu sepuas aku memaki mantanku. Aku melampia...